Assalamu'alaikum :D
haihai post ke 51 nih.
H-3 ramadhan.
Who's excited???? I am! Are you too?
Nih supaya lebih semangat, ada Jurnal Ramadhan yang berisi form-form target, dan notes lainnya yang bisa diisi sendiri supaya ibadah kita lebih terencana.
Aku dapet form ini dari temenku Hanny si anak psiko. Eh psikologi UI maksdunya. Tapi dia juga ndak tau siapa empunya aslinya haha semoga bermanfaat yaa
JURNAL RAMADHAN VERSI WORD by anonymous
JURNAL RAMADHAN VERSI PDF by anonymous
Friday, June 03, 2016
Thursday, June 02, 2016
Hati-hati Menjaga Hati
Assalamu'alaikum wr.wb
Ehem. Kali ini bahasannya lebih serius ya. Tentang hati soalnya ngga boleh main-main.

Ini hati. Hepar. Liver.
Hati yang nanti kita bicarakan adalah "hati" yang biasa disebut pusat emosi, salah satunya perasaan.
Padahal semua itu letaknya di sini:

Ini serius. Pusat emosi kita berada di otak, sistem limbik namanya. Jadi kadang suka aneh sama pernyataan "ketika hati berkata iya namun otak berkata tidak" hmmm *mikir sejenak*
Iya jadi yg dimaksud banyak orang dengan istilah "hati" ini emang sebenarnya otak. Tapi mari kita tetap sebut saja sebagai hati karena nanti akan ada korelasinya.
Hati-hati menjaga hati?
Maksudnya?
Mungkin dengan kalimat-kalimat ini kamu akan tau arah pembicaraan kita akan menuju ke mana
Ehem. Kali ini bahasannya lebih serius ya. Tentang hati soalnya ngga boleh main-main.

Ini hati. Hepar. Liver.
Hati yang nanti kita bicarakan adalah "hati" yang biasa disebut pusat emosi, salah satunya perasaan.
Padahal semua itu letaknya di sini:
Ini serius. Pusat emosi kita berada di otak, sistem limbik namanya. Jadi kadang suka aneh sama pernyataan "ketika hati berkata iya namun otak berkata tidak" hmmm *mikir sejenak*
Iya jadi yg dimaksud banyak orang dengan istilah "hati" ini emang sebenarnya otak. Tapi mari kita tetap sebut saja sebagai hati karena nanti akan ada korelasinya.
Hati-hati menjaga hati?
Maksudnya?
Mungkin dengan kalimat-kalimat ini kamu akan tau arah pembicaraan kita akan menuju ke mana
"Jadi ati-ati buat siapapun yang lagi deket sama seseorang, di jaga hatinya. Jangan sampe ngerasain sakit yang sebenernya kita sendiri yang nyiptain kondisi itu. Saya baru menyadari alasan Allah nggak ngizinin hubungan kedekatan sebelum halal, ya ini nih. Ketika emang takdir kita orang lain, kita bikin rasa sakit buat diri kita sendiri. Sebenernya saya ragu buat share, takut terlalu pribadi. Tapi proses ini justru pelajaran beraharga banget buat saya, biar orang lain cukup bisa bayangin dengan baca ceritanya tanpa harus ngerasain sendiri. Saya yakin ada begitu banyak orang di luar sana yang sering mengaku nggak pacaran, tidak bersetatus, tapi dekat secara rutin dan membiasakan ada."
sumber: http://blog.gheasafferina.com/2016/04/newchapter-01-begining-of-everythings.html
Sudah tau arah pembicaraannya akan seperti apa?
Kalau sudah silakan lanjut membaca sampai bawah jika (masih) ingin membaca dan dalam mood yang bagus. Karena ini akan menjadi pembicaraan yang sedikit sensitif karena hati tadi.
Kalau tadi adalah pernyataan dari seseorang (yang bisa kamu lihat lebih lanjut di link sumber yang udah aku kasih) itu ngena di kamu, Tandanya kamu sedang merasakan. merasakan sesuatu yang memang sudah menjadi hakikat manusia. Aku pun begitu.
Lantas?
Harus gimana?
Fenomena yang aku tau lagi hitz banget adalah
Ekpektasi yang terlalu tinggi
Misal. Misal loh ya. Perempuan lihat laki-laki yang sholeh, baik, pinter. plus plus banget lah pokoknya. Tapi ternyata? Sudah punya pacar. yah jujur rasanya kecewa aja gitu sama yang kaya gitu. Dan ini berlaku buat semuanya. Buat aku juga. Jangan terlalu memasang ekspektasi yang berlebihan. Tapi ya jangan suudzon juga. Biasa aja gitu. Kalem aja vroh.
Lalu apa salahnya?
Tidak. Tidak ada yang salah. Aku yakin kok orang-orang yang memutuskan untuk berada di jalan seperti itu sudah tau bagaimana peraturannya dalam agama, Sudah bisa membedakan apa yang benar dan apa yang salah. Namun terkadang masih mencari-cari pembenaran yang padahal mereka tau sendiri benarnya itu seperti apa.
"Aku tau kok ini gaboleh, tapi kan kita cuma gini gini gini gini"
Mungkin kalau kamu membaca post ku yang berjudul "turning on 17" di situ aku mendeskripsikan banyak orang. Salah satu dari mereka masih aku ikuti perkembangannya sampai sekarang. Dan lagi. Ekspektasi ku sudah tinggi sama org itu. dan kenyataannya sekarang adalah ada beberapa yang berubah. Ya, everything has changed. Dia sekarang ada di posisi kaya gitu juga. Pernah dia jawab sebuah pertanyaan gini
"Lo pacaran sama si xx? Kata lo pacaran ga boleh?" (kurang lebih gini pertanyaannya)
dan ya dia jawab panjang lebar. pokok intinya (menurutku) dia sedang mencari pembenaran yang tadi aku bilang. tapi ada bagian yg menarik. di akhir dari jawaban dia yg panjang itu, dia bilang gini
"but still, it's a sin"
Jengjengjengjenggggg
Sudah cukup banyak kasus seperti ini yg aku temukan. Beneran. Speechless aja rasanya. Tapi lama kelamaan udah biasa.
Kok kamu ngga ingetin ndi?
Ada kok beberapa yang udah aku ingatkan secara langsung dan melalui temannya yg lebih dekat. Tapi ada beberapa temannya itu yang juga udah give up dan sempet bilang
"emang susah ndi kalo udah menyangkut hati"
Iyasih emang. Gimana ngga susah kalo tiap saat diberi perhatian bahkan sampai berbicara tentang masa depan. Padahal belum pasti masa depannya dia.,.ehehehe.
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”(QS. Al Isro’ [17] : 32)
"tapi kan aku ga sampai zina, kita cuma gini gini gini" atau
"kita ga pacaran kok, kita cuma gini gini gini"
Ya cinta itu kadang-kadang tidak ada logika.
Pusat logika juga ada di otak. Jadi kalau kita sedang melakukan pembenaran yang secara logika kita udah tau itu salah, brarti...otak kita yang berperang. Kasian. Mending dipake buat hafalin slide dosen.
Baiknya dipake untuk mencari kebenaran yang nyata, lalu melakukannya untuk kebaikan diri sendiri. Hal-hal sederhana yg susah banget emang padahal itu mudah. Asal ada..... ada apa?
NIAT
"ah elo kan ga pernah ngerasain gimana rasanya ndi. ntar kalo udah ngerasain juga gabisa lepas lo"
Ini perkataan yg sering aku tanyakan ke diriku sendiri.
Gimana kalo terjadi sama diri aku sendiri?
Jujur aku juga takut guys.
Tapi Alhamdulillah sampe sekarang gaada yg usil-usil (hahahaha). Iya, Allah Maha Baik. Baik sekali. Ya tau kan kalo post-post awal di blog ini isinya hampir semua galau-galau ngga jelas. Tapi Alhamdulillah sudah cukup lama tidak seperti itu lagi. Alhamdulillah Allah ngga mengizinkan aku untuk merasakan pengalam itu sendiri. Tapi Allah mengizinkan aku untuk melihat pengalaman itu dari orang-orang di sekitarku. Persis seperti apa yang teman baikku katakan saat sedang mengingatkan temannya yg lain
"Ngga perlu kamu merasakan pengalaman itu sendiri kalo ingin tau bagaiamana rasanya hal itu terjadi. Kamu pun bisa melihat pengalaman orang-orang di sekitarmu, teman-temanmu bahkan yang bisa menggambarkan itu semua dan kamu bisa berubah menjadi lebih baik" (Kurang lebih gini, maaf ya kalo ngga tepat bahasanya -takutnya yang punya kata-kata ini baca- hehehe)
"yah elo ndi kaya udah jadi orang paling bener aja"
Hehehehehehe. Lagi-lagi ini suara hatiku sendiri loh. Aku juga takut kalo mau mengingatkan karena aku pun belum bisa jadi orang yang baik. Bisa saja dosaku lebih banyak daripada dosamu kan wallahu a'lam. Tapi, aku ingin jadi orang yg bermanfaat. Minimal dengan orang-orang yg kukenal. (iya, doain ya supaya indinya cepet jadi dokter agar bisa lebih bermanfaat untuk banyak orang)
Aku pun juga masih merasa bersalah karena kewajibanku untuk mengingatkan sesama muslim masih banyak PR nya. Tapi aku merasa lebih bersalah lagi jika post ini (atau perkataanku yang lain) ada yang menyakiti hatimu, maaf ya aku ngga bermaksud kok. Kalau di dunia nyata aku orangnya emang suka bercanda, kalau ada yang salah tegur langsung aja gapapa banget beneran deh. Karena disitulah indahnya persaudaraan. Saling membantu dalam kebenaran dan saling mengingatkan dalam kebaikan.

Wassalamu'alaikum wr.wb
Subscribe to:
Posts (Atom)