Sunday, November 23, 2014

Lanjutan

Tok tok tok..
“Masuk” ucapku terkaget dalam lamunan
“Assalamu’alaikum” tamuku memberi salam.
“Eh..Wa’alaikumsalam” jawabku kaget. Aku kaget. Mengapa dia bisa ada di sini?
“Saya denger kamu lagi sakit dan dirawat. Baru saja saya sampai di Jakarta.” Jelasnya, seakan-akan membaca pikiranku.
“Bukannya kamu lagi UTS?” tanyaku.
“iya tapi Jarak Jakarta-Bandung kan dekat. Jadi besok pagi saya bisa ke bandung lagi...”
“Lagipula..saya ingin sekali ketemu sama kamu. Sejak lulus SMA, kita belum pernah ketemu lagi kan?” lanjutnya.
Aku diam. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Aku senang dia ada di sini. Betapa tidak, 3 tahun sejak lulus SMA kami belum pernah bertemu lagi. Dia kakak kelasku dulu beda 1 tahun. Dan aku baru lulus 2 tahun lalu. Tapi mengapa di situasi seperti ini? Di saat aku sedang lemah menunggu waktuku untuk pergi dari dunia ini.
“Kamu kenapa? Ngga suka ya saya ada di sini?” Kata dia.
“Em..gapapa kok. Kamu apa kabar? Enak ya kuliah di ITB?”
“Enak kok. Kamu gimana di UI?”
“Wah seruu dong tapi pusing tugasnya banyak banget”
“Iyalah, kuliah kedokteran pasti begitu” Kata dia sambil tersenyum. Ah, indah sekali senyuman itu. Senyuman yang sempat tak kutemui 3 tahun lamanya.
“Yee 11 12 kali aaah sama teknik juga” jawabku bercanda.
“Zani..Kamu...sakit apa?” ia bertanya dengan nada hati-hati.
“ngga, ini Cuma tifus aja biasa, minggu depan juga sembuh”
“tifus atau tumor?”
“kok kamu tau?”
“Kemarin, saya berhasil menghubungi kakak kamu. Kata dia, kamu dirawat karena tumor dan besok kamu mau operasi” jelasnya.
Yaampun. Ingin sekali aku memarahi dia yang sedang tidur di sofa itu. Huh dasar kakak comel.
“Udah? Kamu dateng ke sini mau mengasihani saya aja?”
“Kamu kenapa ngga pernah berubah sih?”
“Lebih baik ngga pernah berubah daripada berubah ke arah yang lebih buruk”
“Zani... ini salah paham. Maafin saya”
Aku diam lagi. Kesal rasanya jika ingat apa yang sudah ia lakukan. Sebelum lulus, ia berjanji akan menjaga hatinya. Memang, kami tidak punya ikatan apa-apa. Tapi, apa itu cukup buat dijadikan alasan dia menjilat lidahnya sendiri?
“Saya waktu itu bener-bener khilaf. Saya kesal melihat kamu di Gramedia bersama laki-laki lain. Akhirnya saya menerima Rahma menjadi pacar saya. Kalo boleh jujur, rasa saya hanya untuk kamu”
“Bagas? Kamu melihat saya sama Bagas? Memangnya salah ya kalo pergi ke toko buku untuk mencari buku latihan soal? Lagipula saya ngga pergi berdua kok. Ada Muthia juga.” Jawabku seraya menjelaskan.
“Tapi, kenapa kamu ngga pernah menjelaskan itu ke saya?”
“lah. Males amat ngejelasin ke cowo yang lagi gandeng tangan cewe. Gangerti apaya kalo belum muhrim?” Kataku ketus.
Lalu kulihat matanya berkaca-kaca. Aku bisa melihatnya sedang menyimpan rasa sesal yang teramat dalam.
Lalu dia mengeluarkan sebuah buku. Buku hariannya ternyata.
“Ini, buat kamu. Saya mau salat Maghrib dulu.” Ucapnya lalu pergi keluar kamarku. 5 menit kemudian kakakku bangun dan izin salat juga. Aku..yang sedang berhalangan salat, sendirian di kamar sambil membaca buku milik kak Zaki.
Yang aku ingat, aku sempat mengeluarkan air mata ketika membaca itu. Lalu, gelap.
--------------
Aku drop lagi. Koma.
Yang kudengar adalah suara gesekan alat-alat dan hembusan nafas para dokter dan perawat yang siap membelah kepalaku ini untuk diambil tumornya.
--------------
“Zani, zani.. Alhamdulillah kamu sudah bangun” kudengar samar-samar suara ayahku. Lalu aku membuka mataku lebih lebar.
“Aku di mana, yah?”
“Kamu di rumah sakit nak. Kamu baru bangun dari koma kamu”
“Koma? Memangnya aku sakit apa?”
Ayahku menghela nafas. Aku bingung. Ada apa ini? Mengapa aku tidak ingat apa yang terjadi?
“Kamu sakit tumor nak, tapi jangan khawatir, tumornya sudah diangkat kok. Tapi..ingatanmu akan hilang sebagian. Gapapa kan?” Jawab ayahku berusaha menahan tangisnya.
Aku..kehilangan sebagian ingatan ku. Ingatan yang bagaimana yang masih kuingat?
“Tenang nak Zani, kamu masih bisa mengingat orang-orang dan hal-hal yang berkesan dalam hidupmu. Bisa kesan yang baik atau yang buruk. Kabar gembiranya, seiring berjalannya waktu, ingatanmu akan kembali. Tapi, prosesnya lama dan agak sedikit sakit” jelas dokter panjang lebar.
Aku menangis sejadi-jadinya. Inikah jalan terbaik selain kematian? Untungnya saja, aku masih mengenali ayahku. Tapi, aku sama sekali lupa akan sosok ibuku yang sudah 5 tahun meninggalkan aku, kak Ahmad, dan ayah. Biarlah. Toh , aku tidak perlu mengingat ibuku yang jahat itu.
“Kakak janji, kakak akan bantu kamu supaya bisa inget semuanya. Janji” ucap kakakku sambil memelukku. Ah beruntung sekali aku punya kakak yang baik dan tampan.
“Zani..” ada seseorang yang berdiri di depan pintu. Ia memanggil namaku. Seketika aku sakit kepala. Siapa dia? Aku rasa aku ingat tapi....uh sakit di kepaku semakin menjadi-jadi.

“Zan..zani. udah udah. Jangan dipaksa. Mending kamu istirahat aja” kata kakakku..

No comments:

Post a Comment