Tok
tok tok..
“Masuk” ucapku terkaget dalam lamunan
“Assalamu’alaikum” tamuku memberi salam.
“Eh..Wa’alaikumsalam” jawabku kaget. Aku
kaget. Mengapa dia bisa ada di sini?
“Saya denger kamu lagi sakit dan
dirawat. Baru saja saya sampai di Jakarta.” Jelasnya, seakan-akan membaca
pikiranku.
“Bukannya kamu lagi UTS?” tanyaku.
“iya tapi Jarak Jakarta-Bandung kan
dekat. Jadi besok pagi saya bisa ke bandung lagi...”
“Lagipula..saya ingin sekali ketemu sama
kamu. Sejak lulus SMA, kita belum pernah ketemu lagi kan?” lanjutnya.
Aku diam. Aku tidak
tahu harus berkata apa lagi. Aku senang dia ada di sini. Betapa tidak, 3 tahun
sejak lulus SMA kami belum pernah bertemu lagi. Dia kakak kelasku dulu beda 1
tahun. Dan aku baru lulus 2 tahun lalu. Tapi mengapa di situasi seperti ini? Di
saat aku sedang lemah menunggu waktuku untuk pergi dari dunia ini.
“Kamu kenapa? Ngga suka ya saya ada di
sini?” Kata dia.
“Em..gapapa kok. Kamu apa kabar? Enak ya
kuliah di ITB?”
“Enak kok. Kamu gimana di UI?”
“Wah seruu dong tapi pusing tugasnya
banyak banget”
“Iyalah, kuliah kedokteran pasti begitu”
Kata dia sambil tersenyum. Ah, indah sekali senyuman itu. Senyuman yang sempat
tak kutemui 3 tahun lamanya.
“Yee 11 12 kali aaah sama teknik juga”
jawabku bercanda.
“Zani..Kamu...sakit apa?” ia bertanya
dengan nada hati-hati.
“ngga, ini Cuma tifus aja biasa, minggu
depan juga sembuh”
“tifus atau tumor?”
“kok kamu tau?”
“Kemarin, saya berhasil menghubungi
kakak kamu. Kata dia, kamu dirawat karena tumor dan besok kamu mau operasi”
jelasnya.
Yaampun. Ingin sekali aku memarahi dia
yang sedang tidur di sofa itu. Huh dasar kakak comel.
“Udah? Kamu dateng ke sini mau
mengasihani saya aja?”
“Kamu kenapa ngga pernah berubah sih?”
“Lebih baik ngga pernah berubah daripada
berubah ke arah yang lebih buruk”
“Zani... ini salah paham. Maafin saya”
Aku diam lagi. Kesal rasanya jika ingat
apa yang sudah ia lakukan. Sebelum lulus, ia berjanji akan menjaga hatinya.
Memang, kami tidak punya ikatan apa-apa. Tapi, apa itu cukup buat dijadikan
alasan dia menjilat lidahnya sendiri?
“Saya waktu itu bener-bener khilaf. Saya
kesal melihat kamu di Gramedia bersama laki-laki lain. Akhirnya saya menerima
Rahma menjadi pacar saya. Kalo boleh jujur, rasa saya hanya untuk kamu”
“Bagas? Kamu melihat saya sama Bagas?
Memangnya salah ya kalo pergi ke toko buku untuk mencari buku latihan soal?
Lagipula saya ngga pergi berdua kok. Ada Muthia juga.” Jawabku seraya
menjelaskan.
“Tapi, kenapa kamu ngga pernah
menjelaskan itu ke saya?”
“lah. Males amat ngejelasin ke cowo yang
lagi gandeng tangan cewe. Gangerti apaya kalo belum muhrim?” Kataku ketus.
Lalu kulihat matanya berkaca-kaca. Aku
bisa melihatnya sedang menyimpan rasa sesal yang teramat dalam.
Lalu dia mengeluarkan sebuah buku. Buku
hariannya ternyata.
“Ini, buat kamu. Saya mau salat Maghrib
dulu.” Ucapnya lalu pergi keluar kamarku. 5 menit kemudian kakakku bangun dan izin
salat juga. Aku..yang sedang berhalangan salat, sendirian di kamar sambil
membaca buku milik kak Zaki.
Yang aku ingat, aku sempat mengeluarkan
air mata ketika membaca itu. Lalu, gelap.
--------------
Aku drop lagi. Koma.
Yang kudengar adalah suara gesekan
alat-alat dan hembusan nafas para dokter dan perawat yang siap membelah
kepalaku ini untuk diambil tumornya.
--------------
“Zani, zani.. Alhamdulillah
kamu sudah bangun” kudengar samar-samar suara ayahku. Lalu aku membuka mataku
lebih lebar.
“Aku di mana, yah?”
“Kamu di rumah sakit nak. Kamu
baru bangun dari koma kamu”
“Koma? Memangnya aku sakit
apa?”
Ayahku menghela nafas. Aku bingung.
Ada apa ini? Mengapa aku tidak ingat apa yang terjadi?
“Kamu sakit tumor nak, tapi
jangan khawatir, tumornya sudah diangkat kok. Tapi..ingatanmu akan hilang
sebagian. Gapapa kan?” Jawab ayahku berusaha menahan tangisnya.
Aku..kehilangan sebagian
ingatan ku. Ingatan yang bagaimana yang masih kuingat?
“Tenang nak Zani, kamu masih
bisa mengingat orang-orang dan hal-hal yang berkesan dalam hidupmu. Bisa kesan
yang baik atau yang buruk. Kabar gembiranya, seiring berjalannya waktu,
ingatanmu akan kembali. Tapi, prosesnya lama dan agak sedikit sakit” jelas
dokter panjang lebar.
Aku menangis sejadi-jadinya.
Inikah jalan terbaik selain kematian? Untungnya saja, aku masih mengenali
ayahku. Tapi, aku sama sekali lupa akan sosok ibuku yang sudah 5 tahun
meninggalkan aku, kak Ahmad, dan ayah. Biarlah. Toh , aku tidak perlu mengingat
ibuku yang jahat itu.
“Kakak janji, kakak akan bantu
kamu supaya bisa inget semuanya. Janji” ucap kakakku sambil memelukku. Ah
beruntung sekali aku punya kakak yang baik dan tampan.
“Zani..” ada seseorang yang
berdiri di depan pintu. Ia memanggil namaku. Seketika aku sakit kepala. Siapa
dia? Aku rasa aku ingat tapi....uh sakit di kepaku semakin menjadi-jadi.
“Zan..zani. udah udah. Jangan dipaksa.
Mending kamu istirahat aja” kata kakakku..