Friday, December 23, 2016

Mimpi itu....

Mimpi itu....
Abstrak
Semua berawal dari sini
Tinggal usaha dan pemberian Allah yang menentukan
Tentang proses, dimana, dengan siapa kamu meraih mimpi itu?
Ya Kehendak Sang Pencipta juga kan?

Mimpi
Aku pernah memimpikan itu
Kuliah di fakultas impian
di Universitas Impian
yang jaraknya hanya 3,5 jam dari rumah
yang UKT nya hanya setengah dari UKT ku sekarang(bahkan kurang dari itu)
yang "prestige" nya jauh lebih besar
yang.....segala fasilitas jauh lebih baik

Mimpi?
Dokter Spesialis Jantung
Inginku itu
Pasti keren kalo bisa bertugas di rumah sakit tempat ayahku kerja(ayahku bukan dokter)
Tapi sekarang aku jauh lebih tau
Jantung itu luar biasa
Sungguh
Dia organ yang bisa dibilang "hampir" mandiri
Ga manja kaya paru-paru, apalagi otak.
Lagi gagal jantung pun masih bisa berkompensasi
Tapi sungguh
Susah banget untuk dipelajari
Soal yang terakhir kukerjakan itu malah bikin terharu
"Kok susah banget begini yaAllah"
Belum lagi serangkaian ECG dengan gelombang-gelombangnya itu

Mimpi
Pasti sulit
Kuliah menuju S.Ked gini aja udah cengeng banget
Gimana mau Sp.JP?
Mimpi apaantuh kalo cengeng cengeng begitu?
Iya
Mimpi kurang bersyukur

Sekali lagi
Jika mimpiku yang paling pertama belum bisa terwujud,
Bisakah aku menjalani mimpi lanjutan ku di univ impian itu?
Hanya Allah yang tau.

sumber gambar: http://inijakarta.com/health/membangun-kesehatan-negeri-dengan-teknologi-dan-hati/


Saturday, December 10, 2016

Sebulan Lagi

Lelahmu jadi lelahku juga
Bahagiamu bahagiaku pasti
Berbagi takdir kita selalu
Kecuali tiap kau jatuh hati

Kali ini hampir habis dayaku
Membuktikan padamu ada cinta yang nyata
Setia hadir setiap hari
Tak tega biarkan kau sendiri
Meski seringkali kau malah asik sendiri

Karena kau tak lihat
Terkadang malaikat tak bersayap
Tak cemerlang, tak rupawan
Namun kasih ini, silakan kau adu
Malaikat juga tahu
Siapa yang jadi juaranya

Hampamu tak kan hilang semalam
Oleh pacar impian, tetapi kesempatan
Untukku yang mungkin tak sempurna
Tapi siap untuk diuji
Ku percaya diri, cintakulah yang sejati

Namun tak kau lihat
Terkadang malaikat tak bersayap,
Tak cemerlang, tak rupawan
Namun kasih ini, silakan kau adu
Malaikat juga tahu
Siapa yang jadi juaranya

Kau selalu meminta terus kutemani
Dan kau s'lalu bercanda andai wajahku diganti
Melarangku pergi karena tak sanggup sendiri

Namun tak kau lihat
Terkadang malaikat tak bersayap,
Tak cemerlang, tak rupawan
Namun kasih ini, silakan kau adu
Malaikat juag tahu
Aku kan jadi juaranya
Bukan rupa yang membuatku jatuh hati.
Nyatanya kamu, selalu menjadi pemeran utama samapai saat ini.



Wednesday, November 09, 2016

Kajian 1 Kastrat BEM FK Unej 2016/2017

PERSEBARAN DOKTER YANG BELUM MERATA DI 71 TAHUN KEMERDEKAAN INDONESIA

Seperti yang kita ketahui bahwa Indonesia telah merdeka pada 71 tahun yang lalu tepatnya tanggal 17 Agustus 1945. Sudah banyak pahlawan yang gugur demi memperjuangkan kedaulatan negara Indonesia. Namun tahukah Anda beberapa di antaranya adalah seorang dokter? Contohnya adalah dr. Abdulrachman Saleh (Bapak Ilmu Faal Indonesia), dr. Cipto Mangunkusumo (salah satu tokoh “Tiga Serangkai”), dan Prof. dr. M. Sardjito.

Sebagai mahasiswa kedokteran yang akan “melanjutkan” perjuangan para pahlawan yang berlatar belakang dokter tersebut, sudah sepatutnya kita mencintai negara kita dan mempunyai tekad untuk berperan dalam memajukan status kesehatan masyarakat Indonesia. Hal itu tentu tidaklah mudah mengingat wilayah Indonesia yang sangat luas dan dibutuhkan persebaran dokter yang merata di setiap wilayahnya. 

Menurut Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Muhammad Nasir, Persebaran dokter di Indonesia belum merata dan hanya menumpuk di pulau Jawa tepatnya di kota-kota besar. Jika mengacu pada perhitungan beban kerja ideal dokter yang ditetapkan pemerintah, rasio satu dokter untuk 2.500 penduduk terlampaui. Rasio itu dihitung berdasarkan jumlah penduduk dengan asumsi 20 persennya sakit, luas wilayah, beban kerja, dan waktu layanan. Menurut data Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) per 9 Mei 2016, jumlah dokter 110.720 orang, artinya satu dokter melayani 2.270 penduduk. Kemristek dan Dikti ingin rasio dokter Indonesia jadi satu dokter untuk 1.100 warga, seperti di Malaysia. Sesuai data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), rasio dokter di Malaysia pada 2010 mencapai satu dokter untuk 835 penduduk. Di Singapura pada 2013, satu dokter untuk 513 penduduk.

Meski rasio dokter Indonesia sudah melampaui target, mereka umumnya terkumpul di kota besar dan provinsi tertentu. Sebagai perbandingan, di DKI Jakarta, sebagai provinsi dengan rasio dokter terbaik, satu dokter menangani 608 penduduk. Di Sulawesi Barat, provinsi dengan rasio terburuk, satu dokter mengurusi 10.417 penduduk. Meski demikian, rasio satu dokter untuk 2.500 penduduk itu tidak bisa diterapkan secara merata. Di Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah, rasio dokter belum terpenuhi akibat jumlah penduduk besar. Di Indonesia timur, standar itu sulit diterapkan akibat wilayah luas, medan sulit, dan penduduk terpencar. 

Data-data yang sudah tertera bukanlah tanpa alasan. Minimnya minat dokter untuk mengabdi di daerah terpencil karena infrastuktur yang kurang dan tidak mendukung, mencakup fasilitas kesehatan yang kurang memenuhi standar. Jaminan pemerintah untuk kehidupan yang layak bagi dokter yang mengabdi pun juga sampai sekarang tidak kunjung terealisasikan. Seorang dokter yang selalu dipojokkan dengan kata “pengabdian” pun butuh kehidupan layak.

Kehidupan layak bukan berarti hidup dengan uang berlimpah karena bukan itulah tujuan utama seorang dokter. Namun bisa saja hal itu menjadi tujuan utama karena mahalnya biaya pendidikan di fakultas kedokteran dan membutuhkan banyak uang untuk mendapatkan modal yang telah dikeluarkan selama pendidikan. Selain itu terjadi pula persaingan tidak sehat antardokter di kota besar dan membuat banyak dokter beralih profesi (bukan sebagai dokter klinis).

Namun sadarkah Anda bahwa masyarakat juga berperan dalam munculnya data-data tersebut? Di zaman yang serba modern ini, masih banyak masyarakat yang tidak percaya untuk berobat ke dokter. Mereka lebih percaya kepada dukun atau “orang pintar” yang berujung pada pengobatan yang tidak ilmiah dan tentunya menghambat peningkatan taraf kesehatan masyarakat Indonesia. Berobat ke dokter pun dianggap tabu dan menimbulkan ketakutan yang dibuat sendiri oleh masyarakat tersebut.

Kita tidak bisa menyalahkan pemerintah tentang fenomena persebaran dokter yang tidak merata ini. Pemerintah pun telah mengupayakan berbagai cara yaitu program beasiswa afirmasi, program internship, bahkan pemerintah Jawa Barat sudah melakukan upaya yang sangat nyata dengan meniadakan uang kuliah apapun di FK UNPAD. Selain itu ada program nusantara sehat yang sudah berlangsung sejak 2015 dan menyatukan profesi di bidang kesehatan dalam satu tim untuk ditempatkan di daerah-daerah terpencil.

Bukan seharusnya kami sebagai mahasiswa kedokteran yang mengkritik masalah tanpa memberikan solusi. Untuk itu, kami memberikan solusi untuk masing-masing pihak. Pemerintah sebaiknya melakukan pembangunan yang merata di setiap daerah di Indonesia sehingga akan lebih mudah menjamin dokter-dokter yang bersedia mengabdi di daerah-darah terpencil, memperbaiki kualitas fakuktas kedokteran di Pulau Jawa dan Sumatera, serta meningkatkan kuantitas fakultas kedokteran di luar Pulau Jawa dan Sumatera.  Masyarakat sebaiknya mengubah pandangan yang lebih percaya dukun atau “orang pintar” daripada dokter. Mahasiswa kedokteran juga sebaiknya bisa mengedukasi masyarakat yang masih mempunyai pandangan seperti itu.


Sumber:
http://health.kompas.com/read/2016/05/10/093908423/Jumlah.Dokter.di.Indonesia.Cukup.Tapi.Menumpuk.di.Kota.Besar

http://nusantarasehat.kemkes.go.id/content/sekilas-nusantara-sehat

http://www.unicef.org/indonesia/id/A5_-_B_Ringkasan_Kajian_Kesehatan_REV.pdf



Sunday, November 06, 2016

Aksi Damai 4 November

Hai Assalamu'alaikum!

Wih judulnya berat ngga nih?
Tapi aku gabakal bahasa itu kok.
Cuma mau menyampaikan opini ku aja.

Ya pasti kalian udah tau semua kan tentang ini? Kalo gatau monggo dibaca dari sumber-sumber yang kredibel dan netral ya. Karena sekarang..sst..jgn bilang-bilang ya. Banyak Media yang sudah tidak netral. Yang Justru malah JAUH lebih memprovokasi. Jangan didengerin. Buktinya? Ya lagi-lagi..cari tau sendiri ya karena kuanggap pembaca blog ku sudah pintar dalam memilah berita dari kasus yang ada.

Jadi di tengah-tengah waktu buat belajar uprak besok, aku sempet baca-baca berbagai berita(lagi)
And hey satu yang perlu diingat. Lihat dari berbagai pandangan. Tapi percaya satu saja. Gitu.
Trus aku nemu berita yang isinya :
Ahok berkata: "dibohongi pakai surat Al-Maidah" instead of
Ahok berkata: "dibohongi surat Al-Maidah"

Sedikit aja, kalimat yang kedua itu dari video yang banyak beredar yang diupload oleh seorang yang sekarang statusnya terancam menjadi tersangka karena video aslinya ternyata memakai kalimat yang pertama. Dan si uploader ini bilang katanya ga sengaja menghilangkan kata pakai di video yg ia upload. Wallahu'alam, hanya Allah yang tau.

And then banyak ahli bahasa bahkan salah satu anggota POLRI pun berkata:
Pemakaian kata pakai ini penting. Karena itu artinya Subjek yang dimaksud bukan Al-Maidah ayat 51 tapi orang yang memakai Al-Maidah 51 untuk membohongi masyarakat Islam.
Ada juga yang berkata gini:
Ibaratnya ada kalimat
Budi membunuh pisau.
Budi membunuh pakai pisau.

Hadu
Ya logika ku juga awalnya bilang "eh bener juga ya" tapi setelah ku baca-baca lagi...
Emangnya Al-Quran, mukjizat terbesar Rasulku, Pedoman hidup Agama Allah, bisa dijadikan sebagai alat untuk membohongi?
Kalo ada yang menganologikan pisau itu ya jelaslah pisau bisa dipakai buat ngebunuh.
Lah terus Al-quran? Bisakah kamu pakai untuk membohongi orang lain?
Think again! Gausah berlagak "yea I'm open minded I'm tolerance shut up u all"
Aku ga provokasi. Tapi plis sisi ketuhanan mu dipake gitu loh. Jangan selalu mengedapankan sisi kemanusiaan. Ya Tuhan memang gabutuh dibela. Tapi aku punya keyakinan. Dan kalau keyakinan berbeda maka hargailah. Ya aku tau bahkan yang beragama Islam pun juga turut mencaci mereka yang melakukan aksi 4 November. Biarlah. Setiap orang punya pikiran, dan pilihan masing-masing kan. Dan yang menentukan itu semua adalah pengetahuan. Ilmu. Ilmu dulu baru perbuatan. Gimana kamu mau sholat kalo gatau ilmu tentang Sholat?

Dan lagi yang mencaci karena "ending" dari aksi damai ini ternyata berlangsung rusuh karena massa inilah itulah.
Apakah kamu berada di lokasi?
Apakah berada dalam posisi mereka?
Apakah kamu tau kebenaran yang sesungguhnya?
Jika tidak suka, tidak ingin mendukung. Cukup diam. Karena diam akan benar-benar menjadi emas daripada kamu hanya memaki, menghakimi, dan lebih parahnya malah justru menjadi provokasi.

Wallahu'alam semoga Allah memaafkan kesalahan kita semua.

Wassalamu'alaikum!

*ini ada tulisan dari salah satu dari mereka yang melakukan aksi 4 November. Dibaca juga ya*

Oleh : Agus Taufiq (Ketua BEM FTUI 2012)

Seperti yang sudah saya duga, bahwa pasca aksi damai 4 November 2016, maka berita negatif tentang aksi ini akan muncul jauh melebihi berita positifnya.

Bad news is a good news.

Beberapa orang di media sosial memberi judgement, bahwa aksinya ricuh, aksinya anarkis, umat islam gak peduli kebersihan, merusak fasilitas umum, gak peduli keindahan taman, dll.

Dan semua yang mengeluarkan statement itu ternyata TIDAK IKUT AKSI.

"Sok ganteng boleh, sok tau jangan." -ICR-

Bagaimana mungkin memberi penilaian tanpa melihat langsung? 
Adilkah kita memberi judgement tanpa ada di lokasi? 

"Loh, kan gw lihat di berita...."

Dan jawabannya sangat mudah, siapa sih yang punya media itu?
Kemana sih keberpihakan media itu?

Ini bukan lagi era informasi. Ini adalah era "kecerdasan" mengelola informasi.

Broadcast (BC) yang berisi kebencian, permusuhan, adu domba, fitnah, teror dan hal negatif lainnya, datang silih berganti dengan sangat cepat. Lebih cepat dari masa tunggu ojek online yang sedang kita pesan.

Saat membaca berita terdakang kita harus lebih cerdas dan kritis. Pun dalam menyebarkan broadcast, jika tidak ada sumbernya, jika yang posting adalah teman kita yang kita kenal biasa asal copy-paste berita, atau sekedar ingin terlihat update, maka sebaiknya tidak usah diteruskan. 

Wait and see terkadang lebih baik. Sampai rilis berita yang resmi dan terpercaya. Berita resmi saja kadang bisa dipelintir dan hanya dikutip sebagian hingga merubah keutuhan makna, apalagi BC. Bersabarlah menunggu sampai kita melihat wawancara resmi / konferensi pers yang utuh. Baru simpulkan.

Bagi saya yang hadir aksi damai 4 November 2016, sungguh indah sekali. Aksinya tertib dan damai. Massa aksi sejak jam 5 sore sudah berangsur-angsur pulang dan merapat ke masjid terdekat. Yang di depan MK, patung kuda, gedung indosat, bundaran BI sampai balaikota sudah mulai bersih. 
Tersisa segelintir (dibanding keseluruhan massa) yang masih bertahan didepan istana. 
Lantas, pecah kericuhan setelah maghrib, yang konon didalangi sekelompok orang beratribut HMI, tapi jika diperhatikan jelas cara berpakaiannnya lebih mirip preman. Dan PB HMI juga sudah mengkonfirmasi bahwa itu bukan mereka. #HidupProvokator

Acungan jempol luar biasa untuk FPI yang memegang teguh janjinya untuk aksi damai. Bahkan FPI membuat barikade khusus untuk melindungi polisi. Dan tiba-tiba saya ngefans sama FPI. #CowoBanget #lah 

Lantas ada kericuhan gak jelas di Penjaringan yang merusak minimarket. Media menggiring opini untuk langsung meyimpulkan bahwa itu ulah massa aksi 4 November, hanya karena atributnya.

Apakah bisa sedangkal itukah analisisnya?
Adilkah memberi label tanpa konfirmasi?
Pun begitu dengan semua orang yang ikut menyebarkan info tsb, padahal gak ada di lokasi.

"Kalo gak asik jangan sok asik, kalo gak tau jangan sok tau." -ICR-

Tak ada habisnya membahas hal negatif. Selalu datang dan saling membalas.

Sekarang, yuk mari berusaha melihat hal-hal positif yang tak terberitakan.
Jujur, ini demonstrasi paling humanis yang pernah saya rasakan (siang-maghrib). 

Selama saya SMA dan kuliah dulu, berkali-kali saya ikut demonstrasi tidak pernah ada yang "sesantai" ini, padahal secara jumlah massa, ini yang paling banyak. Konon sampai 1 JUTA massa aksi yang hadir dari seluruh indonesia.

Dan bayangkan, dimana-mana massa aksi berlomba memunguti sampah, ada yang berkostum putih, hitam, orange, dll. Dimana mayoritas anak muda yang melakukannya. Inilah wajah generasi muda Islam sesungguhnya. Cinta kebersihan.

Saat biasanya aksi membuat saya kehausan dan kelaparan, kali ini sepanjang jalan selalu ada yang menawari minum dan makan, mulai dari air mineral ukuran gelas sampai botol, dari gorengan hingga nasi padang. Beragam snack pun di bagikan ibu-ibu pengajian secara gratis. Jadi inget bulan Ramadhan tiap buka puasa di jalan. #ParaPencariTakjil

Saat saya ingin melompati taman kecil hanya untuk memotong jalan, tiba-tiba seseorang berpeci putih menghadang dan bilang "jangan lewat sini mas, nanti  rusak tanemannya". #deg. Malu luar biasa. Biasanya saya sering negur orang, kali ini saya yang ditegur. Padahal gak niat menginjak, hanya ingin lompat. 

Tapi, ada rasa bahagia luar biasa, ternyata banyak yang peduli dengan penjagaan taman dan fasilitas umum saat aksi ini.

Tak ada dorong-dorongan dengan polisi seperti aksi biasanya saat jadi bunker, tak sibuk juga berlari berputar jadi border. Bahkan saya bisa mendengarkan orasi ulama sambil duduk di trotoar dan makan cilok. #HidupMecin

Disisi jalan yang lain, beragam makanan lengkap dijajakan pedagang, semua jenis jajanan sepertinya tersedia. Dan raut muka bahagia dari pedagang terlihat jelas karena beberapa laris manis. Dagangannya sudah ludes terjual meski masih siang. #BerkahAksiDamai

Di sudut yang lain, polisi sangat santai mengobrol dengan massa aksi, layaknya teman lama yang lagi coba pdkt. 

Beberapa yang lain sibuk foto-foto dan minta difotoin, sepertinya sedang reuni dengan sahabat-sahabat lama. Yang mainstream, tentu saja sedang sibuk selfie untuk segera di upload ke media sosial agar selalu hitz. #UpdateNgetz

Dibeberapa titik massa aksi sedang saling menbantu wudhu dengan bergantian memegangi air mineral, untuk sholat ashar dengan beralas aspal dan spanduk.
Indahnya ukhuwah.

Ada juga yang menyediakan fasilitas listrik dan colokan agar massa aksi bisa mengisi ulang daya hp-nya.

Akhirnya saya tiba pada sebuah kesimpulan, ini bukan demonstrasi.

ini lebih mirip festival aspirasi, car free day, reuni, pasar jajanan, bagi-bagi takjil, atau apalah sebutannya. Yang jelas bahasa yang saya rasa cukul ideal adalah SILATURAHIM AKBAR UMAT ISLAM. Bukan demonstrasi.

Karena berbagai kebahagiaan hadir disini. Karena berbagai golongan ada disini. Yang biasa terpecah karena perbedaan manhaj dan harokah tiba-tiba bersatu padu disini. 

Bergotong royong, berswadaya memberikan kontribusi terbaik yang mampu dihadirkan.
Demi tujuan untuk berpihak membela Al-Qur'an, karena kelak Al-Qur'an yang akan menjadi pembela bagi kita.

Sejuk kan kalau mendengar hal postif dari aksi ini? :)

Bahwa masih ada umat islam yang "nyeleneh" tentu saja ada. Banyak. 

Masih buang sampah sembarangan, masih injak tanaman, orasinya provokatif dan mengundang kebencian. Kata-kata "Gantung" / "penggal lehernya" / "deportasi" tertulis di beberapa spanduk dan terdengar dari orator-orator gak jelas yang provokatif, dan teriakkan tsb diikuti beberapa massa aksi yang kurang cerdas dan sumbunya pendek. 

Tapi apa itu yang harus di highlight? 
Apa itu tuntutan utamanya?

Itu hanya oknum. Dan itu sebagian kecil. Tuntutan resmi tentu yang disampaikan kepada pemerintah. Apa saat diskusi dengan pemerintah, ulama kita tuntutannya adalah "gantung" / "penggal lehernya"? Tidak. 
Ini negara hukum, ulama kita menjunjung tinggi hukum sebagai panglima.

Jika masih ada orang yang nyeleneh ya harap dimaklumi, karena tingkat pendidikan masyarakat kita berbeda-beda, background-nya pun berbeda. Sehingga gak mungkin dipaksakan sama. 

Yang jelas kita bisa memilah  dan memilin informasinya sebagai insan yang cerdas.

So, mari merawat akal sehat.
Dan selamat menjadi manusia positif.

:)

Monday, October 24, 2016

Jadi kapan?


Pagi itu ia kembali tertidur.
Merasa tidak tahu akan berbuat apa lagi di acara tersebut.
Merasa harus mencuri-curi waktu tidur di sela kesibukannya.

Pagi itu juga ia bermimpi.
Bertemu dengan teman-spesialnya-yg-menjauh-entah-mengapa
Bertemu kembali setelah "hati-hati semua" yang diucapkannya 3 bulan lalu di akhir pertemuan mereka.
Bertemu kembali untuk berpisah dan tidak tahu lagi kapan pertemuan selanjutnya berlangsung.
Bertemu kembali setelah semua rasa kecewa memuncak dan rasa ingin meminta penjelasan.
Bertemu kembali dengan kejadian yang tidak terduga.

"Hai kamu yang selalu aku rindukan, semoga mimpi indahku bukan hanya sekedar mimpi. Jadi kapan kita bisa bertemu lagi?"
Ucapnya sembari beranjak dari tidurnya untuk mandi dan memulai aktivitas di pagi itu.

Tuesday, October 18, 2016

Pergilah Pelangi



Pergilah pelangi
Walau hujan telah berhenti
Walau mentari muncul kembali
Warnamu tidak lagi menghiasi hari

Pergilah pelangi
Keindahanmu bukanlah bukti
Bukti yang mengabulkan mimpi
Mimpi yang telah lama tersembunyi

Pergilah pelangi
Pergi dan jangan menoleh lagi
Namun bolehlah kamu kembali
Untuk hati yang terlanjur mati



Saturday, October 15, 2016

Bahasa Jawa? Bisakah?

Belum mengantuk.
Padahal besok harus bangun pagi, berangkat pagi.
Yha nulis dikit dulu gapapa ya.

Jadi latar belakang aku nulis ini karena banyaknya pertanyaan
"Sebenernya kamu sehari-hari ngomong pake bahasa apa sih ndi?"
Dengan polosnya aku menjawab "Bahasa Indonesia"

Lalu mereka tertawa.

Iya sih lucu juga.
Aku dari Tangerang, yg seharusnya bisa Bahasa Sunda. Karena memang suku asli di Tangerang adalah Suku Sunda.Tapi aku bahkan sama sekali gabisa bahasa sunda. Kenapa?
Ya karena ga pernah dipraktikkan,
Di sekolah, dari TK sampai SMA pun juga ga pernah.
Kami selalu berinteraksi dengan Bahasa Indonesia (yg tidak baku pastinya) dengan logat sedikit sunda dan sedikit betawi ala-ala Jakarta. Logat kami tidak sehalus logat sunda asli tapi juga tidak sekasar logat Jakarta.
Lingkunganku itu lingkungan pusat keramaian,
Bedanya kalo rumah itu pusat keramaian di daerah kabupaten.
Dan sekolah itu pusat keramaian di daerah kota.
Penduduk mayoritas keduanya berasal dari pendatang yang bekerja di Jakarta dan Tangerang.
Pendatang ini ya bisa macem-macem. Ada sunda, Jawa, bahkan Bali.
Dan yg "pendatang" ini aslinya orang tua kami kan jadi anaknya ya tinggal ngikut aja.
Kebetulan kebanyakan orang tua di sini juga jarang (bahkan tidak pernah) komunikasi dengan anaknya memakai bahasa daerah asal.
Contohnya aku dan temanku. Orang tua kami sama-sama dari Jawa. Asli Jawa Tengah. Tapi kami gabisa bahasa Jawa, Karena apa? Karena dari kecil diajak ngomongnya ya ga pake bahasa Jawa. Palingan cuma istilah sedikit.

Dan
Masalahnya
Sekarang
Aku
Kuliah
di
Jawa Timur

hahahha jujur aku bingung temenku ngomong apa kalo lagi ngobrol jawaan dan itu cepet banget.
Aku masih bisa ngerti keluarga besarku (yg di Brebes dan di Pemalang) kalo mereka lagi ngobrol gitu masih bisa nangkep lebih banyak daripada yg diomongin di sini.
Ternyata beda ya bahasa jawa aatara Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Yha tapi sekarang udah lumayan ngerti kok walau harus sangat-sangat menyimak.
Tapi aku masih suka diketawain kalo masih nanya-nanya artinya ini apa, artinya itu apa:(

Ohiya kalo aku sendiri lahir di Jakarta, dan tinggal di Tangerang.
Tapi orang tua ku asli Jawa Tengah semua.
Kalo kata guru sejarah SMA ku sih "JAS MERAH. Jangan Sekalipun Melupakan Sejarah"
Kalo gitu berarti aku orang Jawa kan ya? Iya kan? Yha doakan Indinya cepet ngerti Bahasa Jawa+Madura. Karena di sini juga penduduk banyak memakai Bahasa Madura.

Tapi selepas dari itu kita semua adalah satu. Bhineka Tunggal Ika.
Berbeda-beda tetap satu jua Indonesia Raya.

Peace, love, and gawl  be a good doctor!