Tuesday, July 18, 2017

Bisa Jadi?

Bisa jadi itu kau
Karya: Hanny Fauziah

Bisa jadi,
di antara teman-teman di kontaknya, kau adalah yang paling ia tunggu.
Untuk menyapanya meski hanya sekadar 'hai'.
Bisa jadi,
di antara orang-orang yang menyukai postingannya, kau adalah yang paling ia tunggu. 
Ah, apalagi sampai kau mau berkomentar dan sedikit berpendapat.
Bisa jadi,
di antara orang-orang yang melihat story-nya, kau adalah yang paling ia tunggu. 
Untuk juga melihat apa yang sedang ia giatkan.
Bisa jadi,
di antara orang-orang di sekelilingnya, kau adalah yang paling ia tunggu. 
Untuk tersenyum dan membuka percakapan sederhana.
Bisa jadi,
di antara orang-orang yang ia kenal, kau adalah yang paling ia tunggu.
Untuk menemaninya di kala sedih.
Bisa jadi, 
di antara orang-orang yang memujinya, kau adalah yang paling ia tunggu. 
Untuk mengakuinya bahwa ia baru saja melakukan hal baik; dan itu prestasi!
Bisa jadi, 
di antara orang-orang yang ia miliki, kaulah yang paling ia tunggu. 
Untuk mau dibagikan cerita tentang apapun.
Bisa jadi, 
kaulah alasannya bertahan hingga hari ini.
Kaulah alasan bahagianya bermekaran hari ini.
Kaulah alasan ia mau berjuang sampai sejauh ini.
Kaulah alasan ia tersenyum tulus seharian ini.
Lantas, mengapa sedemikian ragu untuk menyapanya, menemaninya, menanyakan kabarnya, memujinya, mengakui kebaikannya.
Kita tak pernah tau kapan menjadi malaikat untuk orang lain.
Jika saat itu kau mampu berlaku sebaik-baiknya pada kawanmu, maka lakukanlah.
Bisa jadi,
kau yang paling ia tunggu.
Dan hadirmu menguatkannya.


Monday, June 12, 2017

Monday, March 27, 2017

"Butterfly, terbanglah tinggi setinggi anganku untuk meraihmu, memeluk batinmu yang semat kacau karena merindu"

Saturday, February 18, 2017

Kajian 2 Kastrat BEM FK Unej 2016/2017

DLP, Pro atau Kontra?
Halo Mahasiswa Fakultas Kedokteran! Tahukah Anda tentang Isu yang sedang “panas” beberapa bulan lalu tentang pendidikan kedokteran di Indonesia? Selain moratorium pendirian FK baru di beberapa wilayah Indonesia terdapat isu yang sebenarnya sudah muncul beberapa tahun lalu dan ramai lagi dibicarakan sampai ada demo dan masuk berita di media TV dengan judul yang melenceng dari kenyataan. Ya! Dokter layanan primer (DLP) yang sebenarnya sudah digagas oleh UU Dikdok no 20 tahun 2013.
DLP ini semakin diperkuat pada tahun 2014, Kemristekdikti (pada saat itu Kemdikbud) bersama-sama dengan Kemenkes sepakat untuk secepatnya mewujudkan program DLP dengan membentuk kelompok kerja percepatan pengembangan kebijakan dokter layanan primer berdasarkan Surat Keputusan Bersama Menteri Pendidikan & Kebudayaan RI dan Menteri Kesehatan RI No.1/X/SKB/2014 dan No. HK.02.05/MENKES/418/2014. Pada tahun 2015, masa tugas kelompok kerja diperpanjang melalui Surat Keputusan Bersama Menkes dan Menristekdikti HK.02.05/Menkes/144/2015/ dan No. 157/M/Kp/IV/2015 untuk mempercepat pelaksanaan program DLP. Kelompok kerja telah melibatkan unsur stakeholders pendidikan kedokteran (Kemristekdikti, Kemenkes, Konsil Kedokteran Indonesia, Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia, Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia, dan Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian). Kelompok Kerja Pelaksanaan Program DLP telah menghasilkan naskah akademik program DLP, standar pendidikan dan standar kompetensi DLP. Pendidikan DLP ini diselenggarakan oleh fakultas kedokteran berakreditasi tertinggi yaitu A dan lulusannya direncanakan diberi gelar Sp.FM (spesialis Famili Medisin).
Sebenarnya apa tujuan dari DLP menurut para pihak terkait ini? DLP dinilai dapat menguatkan usaha promotif dan preventif keberlanjutan sistem jaminan pelayanan kesehatan nasional yang berorientasi pada kesehatan primer.  Dalam sistem ini dibutuhkan dokter yang mempunyai kompetensi sebagai pemimpin kesehatan di suatu wilayah untuk menyelesaikan sebagian besar masalah kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya. Dengan kata lain pihak-pihak ini “tidak percaya” dengan kompetensi dokter umum atau “tidak efektif” karena (jika mau) kompetensi itupun bisa ditambahkan di pendidikan dokter umum saja.
Beberapa perbedaan antara dokter umum dan dokter layanan primer  adalah
1.           Pendidikan dokter DLP setara spesialis.
2.           Lama pendidikan dokter DLP 2-3 tahun setelah pendidikan akademik dan profesi dokter. Jadi pendidikan dokter DLP hanya dapat ditempuh oleh individu dengan latar belakang profesi dokter.
3.           Pendidikan DLP ditambah muatan yang menerapkan prinsip ilmu kedokteran keluarga, ditunjang dengan ilmu kedokteran komunitas, dan ilmu kesehatan masyarakat.
4.           Level kerangka kualifikasi nasional Indonesia (KKNI). Profesi dokter memiliki kualifikasi level 7 KKNI, dihasilkan dari pendidikan profesi.  Profesi Dokter Layanan Primer memiliki kualifikasi level 8 KKNI,  dihasilkan dari pendidikan setara spesialis
5.           Dokter umum memiliki kompetensi 144 penyakit, sedangkan DLP memiliki kompetensi 155 penyakit.
Perbedaan lainnya adalah BPJS hanya akan menandatangani kontrak dengan DLP bukan dokter umum. DLP nantinya akan menangani 2.500 orang (maksimal 3.000 orang) yang kapitasinya ditentukan oleh BPJS. Dalam hal ini DLP diharapkan dapat meningkatkan kesehatan masyarkat karena semakin sedikit masyarakat yang berobat maka semakin besar gaji seorang DLP. Tetapi DLP juga diberikan kewenangan untuk membuka praktik umum sendiri, tidak harus bekerja di puskemas atau rumah sakit pemerintah.
Lalu bagaimana dengan dokter umum yang telah lama menempuh karirnya? Program studi DLP hanya dapat diambil oleh dokter yang baru lima tahun menyandang gelar dokternya alias baru lulus. Sedangkan untuk dokter umum yang telah lama lulus, mereka hanya tinggal mengisi borang yang disediakan oleh BPJS, dan jika borang tersebut dipertimbangkan oleh BPJS maka dokter umum tersebut dapat dianggap setara dengan DLP
Jadi, jika ingin menjadi dokter praktek umum setelah UU ini berjalan, seorang mahasiswa harus menyiapkan waktu paling tidak 8-9 tahun, dengan perincian 3-4 tahun pendidikan Sarjana Kedokteran, 2 tahun pendidikan koas, 1 tahun internsip, dan 2 tahun pendidikan DLP (SpFM).
Wajar saja jika terjadi aksi menolak besar-besaran oleh IDI karena pengurus besar ikatan dokter Indonesia (IDI) mengatakan dokter layanan primer menyebabkan beberapa kontroversi. DLP dinilai akan memberatkan calon dokter, disamping biaya pendidikan kedokteran yang relatif mahal, DLP hanya akan menambah jalan panjang pendidikan dokter selama 3 tahun lagi. Selain itu, UU Dikdok berpotensi menyebabkan konflik horizontal antara DLP dan Non-DLP pada ranah pelayanan primer. Untuk itu, dari pihak IDI mengusulkan dilakukan revisi atas UU Dikdok dan meminta kepada pemerintah agar menghentinkan pembahasan substansi DLP dan berbagai kegiatan termasuk rekrutmen terkait persiapan program studi DLP.
Dengan begitu, DLP memiliki kelebihan yaitu menyediakan langkah preventif di mana dokter dituntut untuk dapat menjaga kesehatan masyarakat sehingga nantinya angka kesakitan di masyarakat dapat menurun dan meningkatkan kualitas hidup mereka. Namun mari kita lihat kembali apa sebenarnya definisi dokter. Menurut KBBI dokter adalah lulusan pendidikan kedokteran yg ahli dalam hal penyakit dan pengobatannya. Bahkan kita sendiri juga tahu selama kuliah di pendidikan dokter bukan hanya diajarkan tentang penyakit, proses terjadi penyakit, tata laksana tapi juga pencegahan dari penyakit-penyakit. Jika memang hal itu masih dirasa kurang oleh pemerintah, mengapa tidak mensikronisasi hal itu dengan lulusan lain yang sudah lebih ahli dalam upaya preventif?
Solusi dari problematika ini adalah ketegasan pemerintah dalam komitmen untuk benar-benar membangun masyarakat Indonesia yang lebih sehat bukan hanya untuk kepentingan politik. Dapat juga dituangkan dalam UU mengenai kejelasan DLP, program kapitasi dan anggaran dana kesehatan. Selain itu, di sisi lain diperlukan pula sosialisasi mengenai DLP dan perubahan mindset mahasiswa yang menganggap menjadi dokter spesialis akan lebih menguntungkan. Paradigma di kalangan masyarakat juga perlu diubah yang awalnya hanya kuratif menjadi preventif.










Daftar Pustaka





Monday, January 30, 2017

Since August 2015


Hai Coccyxku, Angkatan ke 16 FK Unej
Tidak terasa sudah 9 blok alias 3 semester kita berjuang bareng ya.
perjuangan yang paling berat
paling susah
paling mahal 
sampai di rata-rata 20 tahun kita hidup ini ya,
sampai 2 tahun ke depan insyaAllah sudah S.Ked semua,
sampai 2 tahun lagi dokter muda kemudian UKMPPD, 
kemudian sumpah dokter beneran.
Lama sekali ya kesel ga wkwk
Meskipun belum sepenuhnya kompak, meskipun masih ada yang apatis sana sini sama temannya,
ya gapapalah namanya juga proses.
Tapi berasa sekali kok di 3 semester dengan 3 kelompok tutorial sekitar 30 orang yang kepribadiannya sudah terlihat karena 1 semester bersama dalam 1 kelompok tutorial.
Sebenarnya gaada yang apatis, hanya belum terlalu kenal lah yang memang membuat kita kadang kurang peduli, beneran deh.
Kalo masalah apatis dengan keorganisasian yah itumah urusan masing-masing ya.
Yang penting masih saling membantu minimal kenal.
65 orang dari SNMPTN, bergabung sejak awal tapi ada 2 orang yang tidak daftar ulang.
Disusul 75 orang dari SBMPTN. ada juga 1 orang yang tidak daftar ulang.
Jumlah utuh kita harusnya 140 orang ya rek, tapi karena 3 orang itu jadi 137 orang.
Lalu waktu berjalan...
Ada 3 orang (nim berapa lupa) yang memang dari awal tidak ada.
1 orang pindah ke STAN saat semester 1
3 orang pindah ke FK PTN lain saat mau masuk semester 3
Alhasil, sampai sekarang jumlah kita tinggal 130.
130 orang yang (harus) penuh kesabaran akibat jadwal kuliah yang hanya mitos,
BPH yang ruwentnya mengatur kuliah bersama tim jadwal untuk konfirmasi dosen kuliah.
Kuliah yang sebisa mungkin tidak "tabrakan" dengan jadwal tutorial dan skillab masing-masing kelompok.
Yaudah semangat ajaya rek, sebentar lagi masuk semester 4, semoga usaha kita ga sia-sia, semoga homesick kita yang perantau juga ga sia-sia.
Sering-sering ya foto bareng seangkatan gini suka deh :)

























Friday, December 23, 2016

Mimpi itu....

Mimpi itu....
Abstrak
Semua berawal dari sini
Tinggal usaha dan pemberian Allah yang menentukan
Tentang proses, dimana, dengan siapa kamu meraih mimpi itu?
Ya Kehendak Sang Pencipta juga kan?

Mimpi
Aku pernah memimpikan itu
Kuliah di fakultas impian
di Universitas Impian
yang jaraknya hanya 3,5 jam dari rumah
yang UKT nya hanya setengah dari UKT ku sekarang(bahkan kurang dari itu)
yang "prestige" nya jauh lebih besar
yang.....segala fasilitas jauh lebih baik

Mimpi?
Dokter Spesialis Jantung
Inginku itu
Pasti keren kalo bisa bertugas di rumah sakit tempat ayahku kerja(ayahku bukan dokter)
Tapi sekarang aku jauh lebih tau
Jantung itu luar biasa
Sungguh
Dia organ yang bisa dibilang "hampir" mandiri
Ga manja kaya paru-paru, apalagi otak.
Lagi gagal jantung pun masih bisa berkompensasi
Tapi sungguh
Susah banget untuk dipelajari
Soal yang terakhir kukerjakan itu malah bikin terharu
"Kok susah banget begini yaAllah"
Belum lagi serangkaian ECG dengan gelombang-gelombangnya itu

Mimpi
Pasti sulit
Kuliah menuju S.Ked gini aja udah cengeng banget
Gimana mau Sp.JP?
Mimpi apaantuh kalo cengeng cengeng begitu?
Iya
Mimpi kurang bersyukur

Sekali lagi
Jika mimpiku yang paling pertama belum bisa terwujud,
Bisakah aku menjalani mimpi lanjutan ku di univ impian itu?
Hanya Allah yang tau.

sumber gambar: http://inijakarta.com/health/membangun-kesehatan-negeri-dengan-teknologi-dan-hati/


Saturday, December 10, 2016

Sebulan Lagi

Lelahmu jadi lelahku juga
Bahagiamu bahagiaku pasti
Berbagi takdir kita selalu
Kecuali tiap kau jatuh hati

Kali ini hampir habis dayaku
Membuktikan padamu ada cinta yang nyata
Setia hadir setiap hari
Tak tega biarkan kau sendiri
Meski seringkali kau malah asik sendiri

Karena kau tak lihat
Terkadang malaikat tak bersayap
Tak cemerlang, tak rupawan
Namun kasih ini, silakan kau adu
Malaikat juga tahu
Siapa yang jadi juaranya

Hampamu tak kan hilang semalam
Oleh pacar impian, tetapi kesempatan
Untukku yang mungkin tak sempurna
Tapi siap untuk diuji
Ku percaya diri, cintakulah yang sejati

Namun tak kau lihat
Terkadang malaikat tak bersayap,
Tak cemerlang, tak rupawan
Namun kasih ini, silakan kau adu
Malaikat juga tahu
Siapa yang jadi juaranya

Kau selalu meminta terus kutemani
Dan kau s'lalu bercanda andai wajahku diganti
Melarangku pergi karena tak sanggup sendiri

Namun tak kau lihat
Terkadang malaikat tak bersayap,
Tak cemerlang, tak rupawan
Namun kasih ini, silakan kau adu
Malaikat juag tahu
Aku kan jadi juaranya
Bukan rupa yang membuatku jatuh hati.
Nyatanya kamu, selalu menjadi pemeran utama samapai saat ini.